VEKTOR DALAM PENULARAN PENYAKIT
Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Mikrobiologi
Disusun oleh:
Nama : Nia Dwiningsih
NIM: 4004090149
Prodi: D-III Kebidanan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada
Jalan Terusan Jakarta No.75
Bandung
2009
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT.Yang telah memberikan kepada kita semua rahmat dan karunia-Nya.Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhamad Saw.Karena atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul”Vektor Sebagai Penular Penyakit”.Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Mikrobiologi.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Mikrobiologi,Ibu Sri Komalaningsih dan teman-teman yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Akhir kata, tidak ada gading yang tak retak, segala kekurangan serta kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan lapang hati, mudah-mudahan makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamualaikum wr.wb.
Bandung, Desember 2009
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Pembatasan Masalah
1.4 Metode Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Vektor
2.2 Peranan Vektor
2.3 Arthopodborne Disease
2.3.1 Penularan Arthopodborne Disease
2.4 Pengendalian Vektor
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Chandra Budiman,Dr.Pengantar Kesehatan Lingkungan.Penerbit buku kedokteran EGC,Jakarta 2005
Soemirat Slamet Juli.Kesehatan Lingkungan.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta 2006
Http://peternakan.litbang.deptan.go.id/publikari/lokakarya/lkzo05-44.pdf
Http://www.smallcrab.com/kesehatan/25-healthy/525-tekhnologi-nuklir-dalam -pengendalian-vektor-penyakit-malaria
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seperti yang telah kita ketahui, ada beberapa penyakit yang tidak bisa langsung menyerang tubuh kita.Diperlukan suatu perantara untuk penyakit itu masuk kedalam tubuh kita atau biasa yang kita sebut vektor.
Vektor penyakit adalah serangga penyebar penyakit atau arthopoda.Beda vektor dari vehicle, adalah bahwa vehicle itu suatu penyebar penyakit yang tidak hidup, seperti air, udara, makanan dan lain-lainnya, sedangkan vektor adalah benda hidup yakni serangga.
1.2 Tujuan
Penulis membuat makalah ini bertujuan untuk memberi informasi kepada pembaca bahwa vektor penyebab penyakit sangat lah penting untuk diketahui.
· Untuk mengetahui peranan vektor
· Penyakit yang ditimbulkan
· Penanggulangan dan pemberantasan vektor
1.3 pembatasan masalah
Penulisan makalah ini mencangkup tentang pengertian, peranan, penyakit yang ditimbulkan, siklus vektor di beberapa penyakit, serta penanggulangan dan pemberantasan nya.
1.4 Metode penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis mengambil dari berbagai macam referensi dari buku dengan menggunakan metode studi pustaka yaitu dengan membaca , menelaah dan merangkum.Serta dari internet dengan melakukan pencarian di berbagai situs.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Vektor
Organisme hidup yang dapat menularkan agens penyakit dari satu hewan ke hewan lain atau manusia disebut sebagai vektor.Arthopoda merupakan vektor penting didalam penularan penyakit parasit dan virus yang spesifik .Nyamuk merupakan vektor penting untuk penularan virus yang menyebabkan ensefalitis pada manusia.Nyamuk menghisap darah dari resevoir yang terinfeksi.Agens penyakit ini kemudian resevoir yang lain atau pada manusia.
Ricketsia merupakan parasit intraseluler obligat yang mampu hidup diluar jaringan hewan dan dapat ditularkan antar hewan oleh vektor.Rat Fleas , Body lice, dan wood tick adalah vektor arthopoda yang menyebabkan penularan penyakit yang disebabkan ricketsia.
2.2 Peranan Vektor
Secara definisi vektor adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit baik pada manusia maupun hewan. Ada beberapa jenis vektor dilihat dari cara kerjanya sebagai penular penyakit.Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar.
2.2.1 Jenis-Jenis Vektor
a) Vektor Potensial
Vektor potensial adalah vektor yang secara aktif berperan dalam penyebaran penyakit.Vektor ini baik secara biologis maupun mekanis selalu mencari hospesnya untuk kelangsungan hidupnya.
b) Vektor Pasif
vektor pasif, artinya secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa dalam tubuh vektor ada agen patogen dan dapat menularkan agen tersebut kepada hospes lain, tetapi vektor ini tidak aktif mencari mangsanya. Dengan adanya perubahan lingkungan, kemungkinan vektor tersebut dapat berubah menjadi aktif.
c) Vektor Biologis
Vektor biologis, dimana agen penyakit harus mengalami perkembangan ke stadium lebih lanjut. Bila tidak ada vektor maka agen penyakit kemungkinan akan mati. Contoh yang paling mudah adalah schistosomiasis, penyakit akibat cacing Schistosoma japonicum. Larva(miracidium) masuk ke dalam tubuh siput,berkembang menjadi sporocyst dan selanjutnya menjadi redia, kemudian menjadi cercaria yang akan keluar dari tubuh siput, aktif mencari definif host, melalui kulit dimana akan terjadi dermatitis (SOULSBY, 1982).
d) Vektor Mekanis
Vektor mekanis, dimana agen penyakit tidak mengalami perkembangan, tetapi hanya sebagai pembawa agen penyakit. Tidak seperti penyakit malaria atau arbovirus dimana terjadinya infeksi cukup satu kali gigitan vektor yang sudah terinfeksi, pada infeksi filaria, vektor harus sering menggigit hospesny agar terjadi infeksi. Diperkirakan lebih dari
100 gigitan agar cacing dapat bereproduksi dan menghasilkan mikrofilaria.
e) Vektor Insidentil
Vektor insidentil, vektor ini secara
kebetulan hinggap pada manusia, kemudian mengeluarkan faeces yang sudah terkontaminasi agen penyakit dekat mulut. Secara tidak sengaja masuk ke dalam mulut, contohnya pada penyakit Chagas yang disebabkan oleh Trypanosoma cruzi dan vektor yang berperan adalah Triatoma bugs. Vektornya sebenarnya masuk dalam siklus
silvatik, hanya diantara hewan rodensia. Manusia terkontaminasi bila vektornya masuk dalam lingkungan manusia.
Penyakit yang sering mewabah di Indonesia dan dianggap penting serta kemungkinan masuknya penyakit enzootic
2.3 Arthopodborne Disease
Arthopodborne disease merupakan suatu istilah yang mengandung arti bahwa arthopoda merupakan vektor yang bertanggung jawab atas terjadinya penularan penyakit dari satu host(pejamu)ke host lain.Paul A.Ketchum membuat klasifikasi arthopodborne disease berdasarkan penyakit epidemis di Amerika serikat .Sementara itu, park dan park membagi klasifikasi arthopodborne disease yang sering menyebabkan penyakit pada manusia
2.3.1 Penularan Arthopodborne Disease
Berikut ini 3 jenis penularan arthopedborne disease :
A. Kontak Langsung
Arthopoda secara langsung memindahkan penyakit atau infestasi dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung.Contoh,Skabies dan pedikulus
B. Tranmisi secara mekanis
Agens penyakit ditularkan secara mekanis oleh arthopoda, misalnya penularan penyakit diare, tifoid, keracunan makanan, dan trakoma oleh lalat.Secara karakteristik, arthopoda sebagai vektor mekanis membawa agens penyakit dari manusia yang berasal dari tinja,darah,ulkus superfisial,atau eksudat.Kontaminasi bisa terjadi pada permukaan tubuh arthopoda saja, tetapi bisa juga berasal dari agens yang ditelan dan kemudian dikeluarkan atau dimuntahkan melalui kotoran arthopoda.
C. Transmisi secara Biologis
Agens penyakit mengalami perubahan siklus dengan atau tanpa multiplikasi didalam tubuh arthopoda, penularan semacam itu disebut trans misi biologis.
2.4 Pengendalian Vektor
Prinsip-prinsip pengendalian arthopoda
Ada beberapa prinsip yang perlu diketahui dalam pengendalian arthopoda antra lain:
1) Pengendalian lingkungan
2) Pengendalian Kimia
3) Pengendalian Biologi
4) Pengendalian Genetika
5) Pengendalian Terpadu
6) Pengendalian Dengan Tekhnologi Nuklir
v Pengendalian Lingkungan
Pengendalian lingkungan merupakan cara terbaik untuk mengontrol arthopoda karena hasilnya daoat bersifat permanen.Contoh membersihkan tempat-tempat hidup arthopoda.
v Pengendalian Kimia
Pada pendekatan ini, dilakukan penggunaan beberapa golongan insektisida seperti golongan organoklorin,golongan organofosfat,dan golongan karbamat.Namun,penggunaan insektisida ini sering menimbulkan resistensi dan juga kontaminasi pada lingkungan.
v Pengendalian Biologi
Pengendalian Biologi ditunjukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pemakaian insektisida yang berasal dari bahan-bahan beracun.Contoh,pendekatan ini adalah pemeliharaan ikan.
v Pengendalian genetika
Dalam pendekatan ini,ada beberapa teknik yang dapat digunakan diantaranya steril technique,citoplasmic incompatibility,dan choromosomal translocation.
v Pengendalian Terpadu
Strategi ini dilaksanakan atas dasar ekologi vektor,sehingga diketahui berbagai karakteristik vektor seperti habitat,usia hidup,probabilitas terjadi insfeksi pada vektor dan manusia,kepekaan vektor terhadap penyakit,dan lain-lainnya.Atas dasar ini ,dapat dibuat strategi pengendalian yang menyeluruh dengan meningkatkan partisipasi masyarakat,kerjasam sektoral,dan lain-lainnya.
v Pengendalian Dengan Tekhnologi Nuklir
Teknologi nuklir merupakan salah satu teknologi yang mengalami kemajuan pesat dalam pemanfaatannya pada berbagai sektor seperti bidang pertanian dan kesehatan. Teknologi nuklir adalah teknologi yang memanfaatkan radiasi / radioisotop untuk memecahkan masalah melalui penelitian dan pengembangan di berbagai bidang, khususnya bidang kesehatan. Teknik ini memiliki banyak keunggulan karena isotop radioaktif yang digunakan memiliki sifat kimiawi dan sifat fisis yang sama denga zat kimia biasa/non radioaktif namun mempunyai kelebihan sifat fisis yaitu dapat memancarkan radiasi [8]. Radiasi gamma, netron dan sinar X dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama dan vektor penyakit, yaitu dapat digunakan untuk membunuh secara langsung (direct killing) dengan teknik disinfestasi radiasi dan secara tidak langsung (indirect killing) yang dikenal dengan teknik serangga mandul (TSM). Teknik ini relatif baru dan potensial untuk pengendalian vektor malaria karena ramah lingkungan, efektif spesies dan kompartibel dengan teknik lain. Prinsip dasar TSM sangat sederhana yaitu membunuh serangga dengan serangga itu sendiri (autodical technique).
Teknik ini meliputi radiasi koloni vektor / serangga di laboratorium dengan berbagai dosis, kemudian secara periodik dilepas ke lapang sehingga tingkat kebolehjadian perkawinan antara serangga mandul dengan serangga vertil menjadi semakin besar dari generasi pertama ke generasi berikutnya, yang berakibat makin menurunnya persentase fertilitas populasi vektor di lapang yang secara teoritis pada generasi ke-4 akan mencapai titik terendah menjadi 0% atau jumlah populasi serangga pada generasi ke-5 menjadi nihil [9]. Selain digunakan untuk dalam pemandulan vektor, teknik nuklir juga bisa digunakan sebagai penanda vektor. Karena salah satu sifat radioisotop (seperti P-32) dapat memancarkan sinar radioaktif, sehingga dipakai sebagai penanda nyamuk Anopheles sp. di lapangan, sementara cara penandaan dengan teknik lain dianggap sangat suilit mengingat tubuh nyamuk terlalu rapuh serta stadium larva dan pupa yang hidup di air.
Penandaan serangga dianggap penting terutama utuk mempelajari bionomik nyamuk di lapangan, seperti jarak terbang, pola pemencaran, umur nyamuk, pemilihan hospes, siklus gonotrofi dan aspek bionomik yang lain.
Pelaksanaan TSM dapat dilakukan dengan 2 metoda [10] yaitu:
1. Metoda yang meliputi pembiakan massal di laboratorium, pemandulan dan pelepasan serangga mandul ke lapangan.
2. Metoda pemandulan langsung terhadap serangga di lapangan.
Metoda pertama menerangkan bahwa jika ke dalam suatu populasi serangga di lapangan dilepaskan serangga mandul, maka kemampuan populasi tersebut untuk berkembang biak akan menurun. Apabila nilai kemandulan serangga radiasi mencapai 100% dan daya saing kawinnya mencapai nilai 1,0 (sama dengan jantan normal) dan jumlah serangga radiasi yang dilepas sama dengan jumlah serangga normal (perbandingan 1:1), maka kemampuan berkembang biak populasi tersebut akan turun sebesar 50%. Jika perbandingan tersebut dinaikkan menjadi 9:1 (jumlah serangga radiasi yang dilepas 9 kali dari jumlah serangga lapangan), maka kemampuan populasi tersebut untuk berkembang biak akan turun sebesar 90%.
Metoda kedua, yaitu metoda tanpa pelepasan serangga yang dimandulkan. Metoda ini dilaksanakan dengan prinsip pemandulan langsung terhadap serangga lapangan yang dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa kemosterilan, baik pada jantan maupun betina. Dengan metoda kedua ini akan diperoleh dua macam pengaruh terhadap kemampuan kembangbiak populasi serangga. Kedua pengaruh tersebut adalah mandulnya sebagian serangga lapangan sebagai akibat langsung dari kemosterilan dan pengaruh berikutnya dari serangga yang telah mandul terhadap serangga sisanya yang masih fertil. Kemosterilan merupakan senyawa kimia yang bersifat mutagenik dan karsinogenik pada hewan maupun manusia sehingga teknologi ini tidak direkomendasikan untuk pengendalian vektor.
Pengendalian vektor dengan cara konvensional menggunakan insektisida diketahui kurang efektif karena timbul fenomena resisitensi bahkan sering terjadi resistensi silang (cross resistancy) dan mengakitkan matinya flora maupun fauna non target, serta menimbulkan pencemaran kingkungan., sehingga mengurangi efektivitas pengendalian itu sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Penyakit zoonosis adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Salah satu cara penularan penyakit ini dapat terjadi melalui vektor. Selain menyebabkan gangguan pada hospesnya, vektor juga bertindak sebagai penular penyakit. Dalam tubuh vektor, agen penyakit secara biologis dapat berkembang menjadi stadium yang lebih lanjut atau secara mekanis tidak berkembang dan kemudian menularkan melalui gigitan ke manusia atau hewan. Berbagai macam vektor dapat kita temui, mulai dari vektor arthropoda seperti nyamuk, lalat tsetse, phlebotominae sand fly, black fly, caplak, tungau, pinjal dan tritominaebug serta induk semang antara seperti siput air. Penyakit parasit yang ditimbulkan karena vektor diantaranya malaria, schistomiasis, lymphatic filariasis, African trypanosomiasis (sleeping sickness), leishmaniasis, onchocerciasis (river blindness), American trypanosomiasis (Chagas disease), sedangkan penyakit yang disebabkan oleh virus diantaranya dengue haemorhagic fever, yellow fever, Japanese encephalitis, tick borne encephalitis. Selain itu vektor juga menularkan penyakit oleh bakteri diantaranya karena Rickettsia dan Pasteurela pestis (Plaque). Perubahan lingkungan dan iklim banyak mempengaruhi dinamika populasi vektor sehingga hal ini harus menjadi faktor utama yang harus diperhatikan. Penanggulangan penyakit yang ditularkan vektor tidak hanya melalui pengobatan pada manusianya tetapi juga pemberantasan vektornya yang mana harus dilakukan secara terpadu antara pemerintah dan masyarakat dengan memperhatikan data epidemiologi baik penyakit tersebut maupun vektornya. Banyak kasus penyakit yang ditularkan melalui vektor mewabah kembali saat ini dan kadang-kadang menjadi kejadian luar biasa karena program ini tidak dijalankan secara terus menerus. Masyarakat perlu dibina agar hidup dalam lingkungan yang bersih sehingga kemungkinan vektornya tidak berkembang
3.2 Saran
Hendaknya kepada seluruh masyarakat untuk lebih memperhatikan lingkungan,menjaga kebersihan serta ikut berpartisipasi dalam pencegahan berbagai penyakit yang di timbulkan oleh apapun.Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati.
Lampiran
Klasifikasi Arthopodborne disease menurut J.E.Park
| Arthopoda | Penyakit yang ditularkan | | |
| 1. Nyamuk 2. Lalat rumah | Malaria.Filaria,yellow fever,ensefalitis,dengue haemorhagic fever Demam Tifoid dan faratifoid, diare disentri, kolera, gastroenteritis,amebiasis, infestasi, helmintik, yaws, poliomielitis,konjungtivitis,trakoma,Anthtraks | | |
| 3. Lalat Pasir | Kalaazar, oriental sore, oraya fever, sandly fever, | | |
| 4. Lalat Tsetse | Sleeping Sickness | | |
| 5. Tuma | Epidemic tyfus,relapsing fever,trech fever | | |
| 6. Pinjal Tikus | Bubonic flague, chiggerosis,endemic thypus,Hymenolepis diminuta | | |
| 7. Lalat Hitam 8. Reduviid Bug | Onkosersiasis Chagus disease | | |
| 9. Sengkenit Keras | Tick thypus, tick paralysis, ensefalitis viral,tularemia, haemorrhagic fever, human babesiosis | | |
| 10. Sengkenit Lunak 11. Trombiculid mite 12. Itch-mite 13. Cyclops | Relapsing fever Scrub thypus Skabies Guinea-worm disease, fish tapeworm(D.latus) | | |
| | | | |
| | | | |
| | | | |
| | | | |
Sumber:Park&park.The Textbook of Prefentive &Social Medicine
Tidak ada komentar:
Posting Komentar